Ulah AS Hingga China Bikin Harga Minyak Anjlok Hampir 3%


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak bergerak beragam pada awal perdagangan pagi hari ini, setelah anjlok mendekati 3% karena melemahnya perekonomian China dan meningkatnya stok minyak mentah AS.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Kamis (1/2/2024), harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,01% di posisi US$75,89 per barel, sementara minyak mentah brent dibuka lebih rendah atau turun 0,20% di posisi US$80,53.

Pada perdagangan Rabu (31/1/2024), harga minyak mentah WTI ditutup anjlok 2,49% di posisi US$75,88 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent merosot 2,63% ke posisi US$80,69 per barel.

Harga minyak berakhir lebih rendah pada perdagangan Rabu, tertekan oleh rendahnya aktivitas ekonomi di importir minyak mentah utama China dan peningkatan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah AS karena produsen meningkatkan produksi menyusul cuaca dingin bulan lalu.

Aktivitas manufaktur di China, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut pada bulan Januari 2024.

Menurut data dari Biro Statistik Nasional yang dirilis Rabu (31/1/2024), indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur China naik menjadi 49,2 pada Januari 2024 dari 49 pada Desember 2023.

Masih terkontraksinya perekonomian China juga tercermin dari krisis properti yang sedang melanda negara tirai bambu tersebut. Belum lama ini pengadilan Hong Kong memerintahkan likuidasi pengembang properti China Evergrande yang bermasalah. Sektor real estat menyumbang seperempat produk domestik bruto China.

“Data manufaktur menegaskan pandangan kami bahwa China, setidaknya untuk saat ini, merupakan penghambat pertumbuhan permintaan minyak global,” ujar Tamas Varga dari pialang minyak PVM, dilansir dari Reuters.

Baca Juga  Patrick Walujo Pimpin Pengawas Penyatuan Tiktok & Tokopedia

Harga minyak juga tertekan setelah data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah mingguan naik 1,2 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi para analis yang memperkirakan penurunan 217.000 barel.

Produksi minyak dalam negeri AS naik kembali hingga 13 juta barel per hari pada minggu lalu setelah kapasitas hampir satu juta barel per hari ditutup selama cuaca dingin awal bulan ini.

Sementara itu, produksi minyak mentah di kilang minyak turun ke level terendah sejak Januari 2023 karena cuaca, seiring dengan tingkat pemanfaatan kilang menjadi 82,9%, menurut EIA. “Para pengilangan tidak akan terburu-buru untuk kembali ke tingkat di atas 90%,” ujar Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho, dilansir dari Reuters.

Sementara itu, para pembuat kebijakan AS mempertahankan suku bunga tidak berubah pada minggu ini. Prediksi para ekonom menunjukkan bahwa penurunan suku bunga tidak mungkin dilakukan sebelum bulan Juni, mengingat masih kuatnya belanja rumah tangga dan ketidakpastian terhadap prospek perekonomian.

Perang Israel-Hamas telah meluas menjadi konflik di Laut Merah antara Amerika Serikat dan militan Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Meskipun hal ini telah mengganggu pengiriman kapal tanker minyak dan gas alam, yang meningkatkan biaya pengiriman dan mulai mempengaruhi pasokan minyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa rekor produksi di negara-negara Barat dan pertumbuhan ekonomi yang lambat akan membatasi harga dan membatasi risiko geopolitik.

“Masalah utama yang menyebabkan harga minyak mentah menjadi bullish adalah gambaran teknisnya yang masih bearish dan belum bisa mengimbangi kejadian terkini,” termasuk serangan drone mematikan terhadap pasukan AS di dekat perbatasan Yordania-Suriah pekan lalu, menurut analis pasar IG, Tony Sycamore.

Baca Juga  Waspada! Ada Tren Modus Baru Penipuan Kuras Rekening

Kelompok Houthi Yaman pada hari Rabu mengatakan mereka akan terus melakukan serangan terhadap kapal perang AS dan Inggris di Laut Merah dalam apa yang mereka sebut sebagai tindakan membela diri, yang memicu kekhawatiran akan gangguan jangka panjang terhadap perdagangan global.

Dari sisi pasokan, produksi minyak OPEC pada bulan Januari mencatat penurunan bulanan terbesar sejak bulan Juli, menurut survei Reuters, karena beberapa anggota OPEC menerapkan pengurangan produksi sukarela baru yang disepakati dengan aliansi OPEC+ dan kerusuhan yang membatasi produksi Libya.

OPEC memproduksi 26,33 juta barel per hari (bpd) bulan ini, turun 410.000 barel per hari dari bulan Desember, menurut survei tersebut. Hasil total bulan Desember menyingkirkan Angola, yang telah meninggalkan grup.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ulah China, Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah 6 Bulan

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *