Menanti Neraca Dagang RI, Mampukah Rupiah Lanjut Menguat?


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses menguat tajam kemarin, Kamis (14/12/2023) lantaran kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) tahan suku bunga. Hari ini fokus pelaku pasar beralih pada neraca dagang RI untuk periode November 2023, akankah rupiah akan lanjutkan penguatan-nya?

Dilansir dari Refinitiv pada penutupan perdagangan kemarin rupiah ditutup melesat 1,02% di angka Rp 15.495/US$. Rupiah pun mengakhiri tren pelemahan yang terjadi pada tiga hari sebelumnya.

Penguatan rupiah yang terjadi sejalan dengan tekanan dolar AS yang mereda, tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang berbalik arah ke zona merah. Tercatat pada kemarin hingga pukul 15:05 WIB, DXY melandai 0,08% menjadi 102,78, dari sebelumnya di posisi 103,86 pada perdagangan satu hari sebelumnya.



Rupiah bergerak menguat di tengah kabar positif dari bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) yang kembali menahan suku bunga acuan sebagai hasil pengumuman rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir tahun ini.

Bahkan, para pelaku pasar sekarang juga melihat kemungkinan pelonggaran moneter tahun depan, memperkirakan peluang hampir 7,8 % penurunan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bp) pada Mei 2024, menurut alat pengukur CME FedWatch

Ketua The Fed, Jerome Powell juga berpidato cenderung lebih lunak pada pertemuan kali ini, dibandingkan pada pertemuan November lalu di mana dia menegaskan masih terlalu prematur memikirkan pemangkasan suku bunga.

“Itu (pemangkasan) mulai ada dalam pandangan kami dan menjadi topik diskusi kami,” ucap Powell, dikutip dari Reuters.

Selanjutnya, beralih ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui akan merilis data perdagangan internasional Indonesia periode November 2023 pada Jumat (15/12/2023).

Baca Juga  Imam Hussain viral video tiktok

Surplus neraca perdagangan diproyeksi berlanjut pada November tetapi angkanya akan mengecil sejalan dengan makin melandasinya harga komoditas serta naiknya impor. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada November 2023 akan mencapai US$ 2,79 miliar.



Mayoritas proyeksi surplus tersebut lebih rendah dibandingkan Oktober 2023 yang mencapai US$ 3,48 miliar. Jika neraca perdagangan kembali mencetak surplus maka Indonesia sudah membukukan surplus selama 43 bulan beruntun.

Konsensus juga menunjukkan bahwa ekspor akan terkontraksi 10% (year on year/yoy) sementara impor naik 0,57% pada November 2023.

Sebagai catatan, nilai ekspor Oktober 2023 terkoreksi 10,4% (yoy) tetapi naik 6,8% (month to month/mtm) menjadi US$ 22,15 miliar. Nilai impor Oktober naik 7,7% (mtm) tetapi turun 2,4% (yoy) menjadi US$ 18,67 miliar.

Ekspor diperkirakan melandai pada November 2023 seiring dengan penyusutan harga komoditas. Sebaliknya, impor diperkirakan akan naik sejalan dengan data historisnya.

Data neraca dagang menjadi patut diperhatikan karena melibatkan perdagangan ekspor-impor yang sangat bergantung pada aliran dana masuk dan keluar dari Tanah Air. Jika neraca dagang mampu berada di zona surplus kembali, ini akan berdampak positif bagi rupiah karena aliran dana masuk lebih banyak sejalan dengan nilai ekspor yang lebih banyak dibanding impor.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, rupiah kemarin bergerak menguat tajam dalam melawan dolar AS, bahkan terjadi gap down. Dampaknya, kini rupiah semakin mendekati support di Rp15.440/US$ yang didapatkan dari garis horizontal berdasarkan low candle 5 Desember 2023.

Kendati demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati apabila ada perubahan arah melemah apalagi terjadi gap down yang biasanya memicu pergerakan harga untuk menutup gap dahulu sebelum lanjut menguat.

Baca Juga  Rasio Kredit UMKM RI Rendah, Menkop UKM Buka Penyebabnya

Potensi area yang bisa dicermati sebagai area pelemahan terdekat ada di resistance Rp15.550/US$. Angka ini didapatkan dari garis rata-rata selama 200 jam atau moving average 200 (MA200) yang juga hampir berdekatan dengan wilayah terjadi-nya gap down rupiah kemarin.




Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Video: Anjlok Lagi! Rupiah Sentuh Rp 15.700 Per Dolar AS

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *